Tidak terhitung berapa banyaknya artis dan band yang bermunculan akhir-akhir ini. Saya sendiri sampai tidak hapal lagu ini lagu siapa, album ini album siapa dan artis ini, band itu menelorkan album baru apa. Dan mekanisme “seleksi alam” Darwinian agaknya berlangsung dalam kompetisi pemusik menggaet simpati pasar. Pemain lama bertumbangan berganti dengan wajah-wajah baru yang lebih respon permintaan pasar dan menuruti tren. Mendengarkan lagu lama bisa di-cap nggak up to date, ketinggalan zaman.
Ini hal yang wajar memang. Tetapi yang membuat gelisah adalah ketika kita memperhatikan lirik-lirik lagu baru dan landing yang coba diusungnya, sebagian besar—kalau tidak mau dikatakan semua—bertema dan bernuansa asmara (bukan cinta!). Lho kan ndak apa-apa! protes kawan saya ketika kami berdiskusi tentang masalah ini. Memang sepintas tidak menimbulkan efek apapun, tetapi pada dasarnya musik yang seperti ini layaknya tsunami otak, meluluh-lantakkan bangunan heterogenitas ekspresi responsif dan aktualisasi diri manusia, apalagi jika musik-musik seperti ini sudah mulai biasa didengar seseorang sejak dia masih belia.
Maksud’nya? Tanya kawan saya yang satunya, sedari tadi dia malah asyik mendengarkan musik dari MP4-nya.
Iya, sekarang ini anak TK saja sudah biasa menyanyikan lagu asmara dan dari mulutnya keluar suara “Aku cinta kamu…., aku sayang kamu…”, atau “Oh sayangku….”. Bayangkan, jika sejak kecil dia terbiasa mengucapkan kata seperti itu, kemudian berimbas pada perilakunya yang cenderung mendekat pada hal-hal berbau asmara (juga diperparah dengan paradigma perfilman kita yang juga setali tiga uang). Sekarang ini anak SD kelas akhir sudah mulai “merasa merasakan” suka kepada lawan jenis. Sinetron kita yang laku adalah sinetron bertema asmara, dan sekarang dapat kita lihat, pelaku dan background mereka masih di bawah umur.
Kan wajar manusia suka dengan lawan jenis?, protes kawan saya lagi. Ya, tapi resultan efek yang saya maksud tidak sedangkal itu. Seperti layaknya tsunami yang menyapu bangunan apapun dihadapannya, tsunami otak seperti ini juga menyapu bangunan idealisme yang seharusnya berkembang. Artinya begini, karena kecenderungan remaja sekarang lebih pada asmara, maka dimensi kehidupan yang lain menjadi terabaikan. Kita bisa lihat secara kasat mata bagaimana tatanan moral, sosio-kultural-religius menempati posisi marginal dalam pemikiran generasi muda kita. Mereka juga menjadi lebih suka pada hal-hal yang festivus, hura-hura.
Pengajian agama, kegiatan akademik, aktifitas sosial, environment responsive sama sekali bukan hal yang menarik minat generasi kita. Panitia kegiatan semacam itu pasti koor setuju dan mengiyakan bahwa peserta yang datang dalam acara mereka jauh dari target yang dipasang. Bandingkan dengan acara festivus semacam konser musik band papan atas, orkes dangdut atau—bahkan—“pacaran berjama’ah”, malam mingguan, peserta yang datang membludak, over load. Karcis acara konser band pasti ludas, istilah orang Jawa kurang ngamek entek nggolek.
Bukan berarti saya antipati dengan konser musik. Saya malah penggemar musik, juga pemusik (meski amatiran). Yang menjadi beban pikiran hanyalah makna yang diusung dalam lirik-lirik musik sekarang ini terlalu cengeng, romantic minded. Sepertinya tidak ada yang lain dalam kehidupan remaja kecuali hal-hal berbau asmara.
Musik sebagai ekspresi
Manusia butuh sarana mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya. Sarana itu bisa mewujud dalam bentuknya yang bermacam-macam, salah satunya dengan seni, dan salah satu seni adalah seni musik. Sehingga karena musik hanyalah sarana ekspresi, ia bisa mewadahi makna apa saja yang ingin ditransformasikan seseorang dengan musik itu. Karenanya, dapat kita lihat bagaimana perkembangan musik sangat dipengaruhi kondisi sosio-kultural di mana dan kapan suatu lagu itu diciptakan.
Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, lagu-lagu yang beredar dan tercipta adalah lagu perjuangan yang menggerakkan nasionalisme dan semangat membela tanah air. Masa mempertahankan kemerdekaan, lagu yang diminati masyarakat adalah lagu tentang kehidupan. Berangsur-angsur lagu kemudian mengalami metamorfosa dan sekarang kita bisa melihat bagaimana mainstream lagu-lagu yang beredar di masa mengisi kemerdekaan ini.
Jarang sekali lirik lagu baru yang bernuansa nasionalisme, religius, kepedulian terhadap lingkungan hidup, kemanusiaan. Hampir semua bernuansa asmara. Jadi kadang-kadang kalau rindu dengan lagu-lagu yang murni ekspresif, saya suka memutar tembang dari pemusik seperti Bang Iwan, Bimbo, atau lagu-lagu nasional.
Musik sebagai industri
Demokrasi liberal menguasai sistem perpolitikan dan kapitalisme merajai sistem ekonomi, demikian kata banyak pengamat. Secara umum memang benar. Dan kapitalime ekonomi pada akhirnya mengandaikan keuntungan materil murni dari setiap tindakan manusia. Mekanisme pasar menjadi kata sakti yang memaksa produksi mengikuti kemauan konsumen. Dan prinsip “Sedikit modal banyak untung” kemudian menenggelamkan dan meniadakan kepuasan psikis karena yang dimaksud “keuntungan” oleh sistem ekonomi kapitalis adalah modal finansial.
Termasuk musik, yang akhirnya mau tidak mau harus menjadi komoditas industri. Kalau masih ingin survive, ya ciptakan musik yang diminati pasar, kalau tidak ya gulung tikar. Dan karena pasar sedang mengalami endemik virus asmara, maka musik yang tercipta juga harus bernuansa asmara.
Dilihat dari sisi nada dan irama, musik sekarang masih ekspresif, tetapi dari makna yang dibawa, sebagian besar sudah komoditif.
Diskusi saya dan teman-teman berakhir disini dan berganti tema yang lain. Saya kemudian beranjak dan memperhatikan kicau burung di dahan pohon tepi jalan sambil berguman: mungkin nanti suara kamu tidak semerdu ini lagi.



Komentar Terakhir