Turba ke Bawean merupakan agenda kegiatan yang sudah direncanakan oleh PDM Gresik sejak Pelantikan, namun selalu tertunda mengingat kondisi gelombang Laut Jawa yang kurang stabil. Di pulau yang terpisah 150 kilometer dari Pulau Jawa tersebut, terdapat dua Cabang Muhammadiyah: Sangkapura dan Tambak. Kondisi geografis yang demikian membuat koordinasi internal persyarikatan lebih banyak dilakukan melalui telepon dan faxmili. Sehingga silaturrahmi dengan bertatap muka secara langsung bisa menjadi penyemangat ghirah ber-Muhammadiyah warga Bawean, disamping dari sisi pimpinan, Turba menjadi sarana untuk mengetahui kondisi faktual dakwah Muhammadiyah di sana. Menurut Drs. M. In’am, ketua PDM Gresik, kegiatan ini dilakukan untuk konsolidasi organisasi. “Jangan sampai amal usaha dan persyarikatan kita hilang karena kurang diperhatikan,” tegas beliau.
Turba kali ini merupakan Turba yang istimewa dibandingkan dengan Turba sebelumnya. Bagaimana tidak, selain anggota PDM, Turba juga diikuti anggota Majelis seperti: Dikdasmen, MKKM, MTDK dan Majelis Hikmah. Disamping itu, ikut pula Ketua PDPM Gresik, PD Aisyiyah Gresik dan dua orang dari PCM Menganti plus staff PDM Gresik. Yang lebih istimewa, Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim, Dr. (Eng) M. Imam Robandi, MT, ikut serta pula dalam rombongan Turba kali ini. Total ada 25 orang, sehingga dengan jumlah sebanyak itu, perjalanan terasa sangat menyenangkan.
Perjalanan dari Gresik menuju Bawean memakan waktu 3 jam ditempuh dengan Kapal Cepat. Berangkat pukul 09.00 pagi, rombongan tiba di Bawean pukul 12.00. Setelah acara pembukaan, pada pukul 14.00, PDM dan Majelis serta Ortom melaksanakan konsolidasi dan pertemuan dengan masing-masing pimpinan dan anggota di bawahnya.
Dr. (Eng) M Imam Robandi, MT, Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim yang menyertai Majelis Dikdasmen PDM Gresik dalam materinya pada Workshop Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Pendidikan yang dilaksanakan di Perguruan Muhammadiyah Sangkapura menekankan akan pentingnya “Pendidikan Berperilaku”. Menurut beliau, kecenderungan pendidikan model Barat terletak pada penekanan dalan Sains dan Teknologi, sedangkan pola pendidikan Timur menekankan aspek Perilaku. “Sehingga kita perlu mengaplikasikan perpaduan pola yang saat ini sedang menjadi perbincangan, yakni dari pola pendidikan arah sains dan teknologi menuju pola pendidikan berperilaku,” terang beliau. Imam sendiri seminggu sebelumnya melakukan perjalanan ke Sidney, Australia. Sehingga keikutsertaan beliau dalam Turba ini merupakan bukti kepeduliannya terhadap pendidikan Muhammadiyah.
Kondisi Bawean yang minim listrik menyebabkan workshop agak terganggu. Suara mesin Diesel yang menjadi—sumber utama listrik—membuat penyampaian materi kurang jelas terdengar. Jarak yang jauh dari pembangkit listrik di Gresik menjadi kendala distribusi listrik di daerah ini. Sehingga pasokan listrik untuk warga dari PLN setempat harus berbagi, dua hari menyala dan dua hari selanjutnya padam, itupun hanya mulai sore sampai pukul 09.00 pagi harinya. Warga pun mesti menyediakan mesin diesel sendiri secara berkelompok untuk mensuplai kebutuhan listrik pribadi. Kondisi yang demikian sampai-sampai membuat Imam berinisiatif membangun Pembangkit Listrik Tenaga Matahari.
Setelah koordinasi masing-masing selesai, semua anggota rombongan berangkat menuju desa Daun, Sangkapura untuk mengunjungi perguruan Muhammadiyah Daun. Di desa tersebut, Pimpinan Daerah mengadakan pengajian untuk pimpinan ranting, guru dan masyarakat sekitar, yang disampaikan oleh Drs. Moh. In’am dan Dr. (Eng). Imam Robandi, MT.
Ba’da Isya’ rombongan Turba sudah berada di Sangkapura dan mengadakan pengajian di Masjid Sholihin yang diisi oleh KH. Mukhlas Hamim, Penasehat PDM Gresik. Seusai pengajian, sekitar pukul 10 malam, rombongan menyempatkan untuk berkunjung ke Balai Kesehatan Islam (BaKIs) Muhammadiyah Sangkapura untuk melihat wujud dakwah Muhammadiyah dalam bidang pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Keesokan harinya, rombongan Turba mengunjungi Pasar Sangkapura untuk membeli oleh-oleh. Sebelum pulang, warga Muhammadiyah Sangkapura menyuguhi rombongan dengan makanan khas Bawean, Nasi Pandan. Aroma pandan yang wangi dipadu dengan gurihnya ikan asin menutup perjalanan Turba dan rombongan mesti bersiap-siap untuk pulang karena jadwal kapal yang terbatas. (Kareem-Nada)




Komentar Terakhir